Showing posts with label warung kopi. Show all posts
Showing posts with label warung kopi. Show all posts

Sunday, December 23, 2018

APAKAH SERAGAM DAN ATRIBUT ITU PENTING?


Masih ada aja yang nyinyir, mau bantu orang kok pakai seragam itu mau bantu apa mau pencitraan? kalau mbantu ya yg ikhlas nak usah pakai seragam  atau jangan jangan ngak ikhlas? hanya supaya di puji orang saja.

Itulah sepenggal nyinyiran sebagian orang yg bisanya hanya menyalahkan aksi sebagian ormas di kala reaksi cepat menolong korban bencana.

Nah.. Berarti Basarnas, Polri, TNI harus lepas seragam juga dong.. 

Mbak/mas  (siapapun namanya) semoga Alloh memberimu kelapangan hati.
Identitas tidak selalu dipakai untuk Riya..
Terkadang identitas harus dipakai untuk mengurangi rasa curiga dari masyarakat..

Bayangkan kalau tiba-tiba segerombolan orang datang, masuk ke rumah bencana, angkat-angkat ini itu. Malah dikira penjarah..

Dokter pake jubah putih, agar orang percaya kalau dia dokter. Jadi kalau dipegang, tahu bahwa itu alasannya meriksa.
Bayangin kalau nggak pakai identitas dokter, masuk kamar pasien. Terus megang-megang tangan.. Bisa digampar. Hehehe..

Kadang pingin pinter..
Tapi kalau niatnya suudzon.. Malah jadi kelihatan kurang pinternya.

Lebih baik kita berbuat, bergerak. Dan bertanya.. Kita sudah melakukan apa??
Daripada terus nyinyir ke pihak yang ternyata pahalanya jauh lebih banyak dari kita..

Malah malu nantinya..

Monday, November 12, 2018

Ancen Asuu

ASU klo  ditujukan pada   wujud hewan yg namanya itu,,ya panggilan buat hewan tsb,,,tp klo wujudnya hewan lain misal banteng,,itu berarti umpatan krn bantengnya mau nyrudug yg disrudug kaget jd ngumpatnya Asu,,bgt juga klo berucap Asu didpn manusia atw nyebut nama manusianya itu Umpatan (mislnya paijo asu ini umpatan krn yg di sebut nm.manusia paijo)..tp perlu diingat kalo org yg berjiwa santun,  punnya tatakrama,,ungkapan, sebutan, dan umpatan kotor tdk akan keluar dr Mulutnya pasti merasa malu,,,yg keluar biasanya klo muslim.ya" astoqfirulloh,,innalillahi, subhanalloh, masha alloh gitu",, klo yg nasrani ya,,puji Tuhan,,Tuhan memberkati begitu",,,berarti yg ngumpat menunjukkan Aslinya, mencerminkan dirinya,,mk stop mengumpat

Saturday, October 27, 2018

Tentang Kalimat Tauhid

kalimat tauhid

Biasanya saya menghindari status seperti ini karena sensitif. Tapi, sesekali okelah.
"Mamas nggak pengen punya topi tauhid? Kaos tauhid gitu? Kan lagi trend."
"Kalo mamas mau masuk wc harus lepas kaos sama topi dulu dong? Adek kan nyuci baju di kamar mandi, terus kaosnya nggak pernah ikut dicuci dong?"
"Oh, terus itu orang-orang gimana dong? Katanya harus dimuliakan? Nggak boleh dibakar? Masa iya nggak boleh mbakar tapi boleh mbawa ke kamar mandi?"
"Nggak usah suudzon, nggak usah mikirin orang lain. Mungkin aja mereka bisa memuliakannya dengan baik, dengan caranya sendiri. Walau pun yaaa.... Yang penting adek jangan ikut rame."
Nah, lalu saya tengok beranda, tengok juga berita aksi bela tauhid kemarin.
Bendera-bendera itu dipakai alas duduk (maaf, dipantati), lalu di mobil bukan dilipat tapi ditaruh sembarang dan terinjak kaki, ada lagi yang untuk tutup kayu bendera di bawah pohon rindang.

Jadi, apakah kita sudah membela dengan aksi yang benar, tindakan yang benar, dan benar-benar memuliakan?
Mohon maaf saya tidak bermaksud mengajak adu argumen atau memancing emosi lagi. Marah karena bendera tauhid dibakar, silakan. Tapi saya dipesani seorang guru.

Bijaklah dalam menegakkan kebajikan.
Saya belum bijak, saya bisanya hanya menilai tindakan orang lain sudah bijak atau belum lalu membuat status.
Beliau lalu menasihati lagi. Kamu sudah diajarkan bahwa kalimat-kalimat itu wajib ditanamkan dalam hati, ucapkan dengan lisan, lalu amalkan dengan perbuatan. Dipakai wirid setiap waktu, mengharap husnul khotimah dengan kalimat itu, lalu terus menerus berusaha hanya Dia saja yang menjadi alasan kita berbuat, dan menjadi tujuan akhir dari hidup kita.
Aksi membakar bendera tauhid dan aksi bela tauhid atau bela bendera tauhid harus kita jadikan pelajaran. Semoga ke depannya bisa lebih bijak dalam bersikap, bertindak, atau mengambil keputusan.

Sumber Facebook

Friday, October 5, 2018

Kebohongan yang lagi viral



Pagi-pagi, kau bangun kesiangan. Buru-buru hendak sholat subuh padahal sudah pukul setengah tujuh. Di luar sebenarnya sudah terang, tapi kau enggan membuka jendela ataupun sekadar menyibak tirainya, agar cahaya tak masuk, agar "feel" subuhnya masih terasa. Tanpa sadar kau mengawali pagi dengan mencoba membohongi Tuhan, terlebih dirimu sendiri.

"Bangun, say. Ntar rejeki kita dipatok ayam" ujarmu membangunkan istri. Kalimat kiasan yang jika diartikan secara harfiah tentu saja bohong. Mana ada ayam yang bisa mematok rejeki?

Kau lalu masuk ke kamar mandi. Bercermin sejenak. Tampak sehelai uban di kepala. Kau panik dan segera mencabutnya, tak lupa mencukur bulu-bulu kasar pada wajah. Tentu saja agar terlihat muda. Kau berniat membohongi pemerhati fisikmu di luar sana. Siapa lagi kalo bukan kaum hawa.

Pesan Whatsapp berbunyi, dari atasan di kantor, menanyakan posisi. Kau membalasnya "OTW", padahal masih di ruang tamu mengikat tali sepatu.
dalil tentang larangan berbohong

"Mbok, jangan duduk di pintu! Pamali! Bahaya!" ujarmu pada asisten rumah tangga yang menghalangi langkahmu. Kau membohonginya dengan suatu hal gaib yang tak jelas dasarnya.

Di perjalanan dalam bus, seorang pengemis kecil mencolekmu dengan wajah memelas. "Gak ada". Ujarmu tanpa menoleh. Kau berbohong hanya karena malas merogoh saku.

Tiba di kantor, kau tak langsung membuka folder kerja, melainkan akun fesbukmu lebih dulu. Cekikikan sendiri hingga atasanmu melintas dan fesbuk segera kau minimize. Di display monitor kini hanya tampak file kerja. Lagi-lagi kau membohonginya dengan mencuri jam kerja.

Pekerjaanmu membutuhkan email baru. Tanpa membaca Terms and condition, kau langsung memencet apply, padahal ada pertanyaan di situ. Ternyata pada robotpun kau berbohong dengan enteng saja.

Jam makan siang, teman kantor mengajakmu makan di luar, sekaligus mau bayar utang katanya, dia baru saja dapat rejeki.
Belum tuntas makanan kau habiskan, masuk WA dari istrimu. "Gimana masakannya say? enak?". Istrimu memang rutin memberi bekal dari rumah. Dengan berat hati kau hanya balas WA-nya dengan ikon jempol dan kiss. Kau sadari sudah berbohong, tapi traktiran temanmu terlalu sayang untuk diabaikan.

Usai makan, temanmu bayar hutang. Duitnya langsung kau sembunyikan pada lipatan-lipatan kartu nama dalam dompetmu. Suatu bentuk kebohongan pada istri dengan dalih pendapatan di luar gaji.

Jam kantor sebentar lagi berakhir, kau mengisi waktu dengan membuka fesbuk via gadgetmu. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja kau sudah berasyik masyuk dengan stalking akun mantanmu, orang yang pernah kau bohongi dengan janji "tak bisa hidup tanpanya". Jika saja janjimu saat itu benar, mestinya saat ini kau sudah mati karenanya.

Pulang kantor kau mampir membeli buah tangan untuk di rumah. "gak sampe modalnya, Pak!" ujar pedagang rambutan saat kau tawar jualannya. Dan kaupun terima saja walau dibohongi.

Tiba di rumah kau dapati anakmu sedang menonton kartun via gadgetnya, kebohongan visual berbentuk hewan-hewan dan kendaraan yang bisa berbicara. Sementara istrimu di ruang tengah, berurai air mata dibohongi oleh sinetron hidayah.

Belum sempat rebah di sofa, teleponmu berbunyi. Ada nama orang yg kau hindari pada displaynya. "bilang saja saya lagi keluar, gak bawa hape". ujarmu berbisik pada istri, kau suruh ia berbohong.

Anakmu lalu masuk ke ruang tengah "Pak, ada peminta sumbangan panti asuhan" ujarnya. Kau cuma mengintip sedikit ke ruang tamu, lalu menitip pesan pada anakmu "bilang saja bapak dan ibu lagi gak ada". Ternyata gak cukup istrimu, anakmu pun kau ajar berbohong.

Malam ini akhirnya kau tidur cepat karena kelelahan. Tengah malam kau dapati istrimu sedang berkaca-kaca. "Loh, ada apa say?".
Istrimu panik dan segera menyeka air matanya "gak apa-apa. Aku baik-baik saja", ujarnya dengan senyum dipaksakan. Padahal istrimu membohongimu. Ia sesungguhnya tidak dalam keadaan baik, karena baru saja mendapatkan akun mantanmu dari gadget yang kau lupa clear history.

Nah, lihatlah, betapa banyak kebohongan yang tanpa sadar kita akomodir dan lumrahkan hanya dalam satu putaran hari.
Lantas mengapa kita heran jika saat ini ada yang berbohong ataupun ingkar janji?

bang arham

Tuesday, September 25, 2018

Kemletak

Ketika realiatas di bungkus dengan narasi permukaan yang sangat mudah di hapus.

Ukirlah dengan tanganmu sendiri karena itu akan membekas sebagai stemple mu kemudian hari.jangan kau remehkan tulisan rekanmu bisa saja itu murni panggilan hati bukan hasil mencuri ketikan hati orang lain.

Sunday, September 23, 2018

Kampanye Positif mungkinkah?

Pemilu sebentar lagi dan masa kampanye sudah dimulai perang tagar semakin sengit tak luput dari caci maki
Buat teman-teman yang cinta mati sama Jokowi atau cinta mati sama Prabowo, coba pikirkan baik-baik ya. Jokowi jadi presiden, kamu kira-kira jadi apa. Prabowo jadi presiden, kamu akan jadi apa. Jangan sampai kalian rela bermusuhan. Saling caci memaki, saling hujat dan saling fitnah. Siapun yang jadi presiden nanti, tidak akan ada yang berani menjamin Indonesia lebih baik. Karena jaminan itu hanya dari Allah SWT lewat doa kita semua.
Ingat... siapapun yang jadi presiden, kalian hanya akan jadi rakyat. Yang insya allah, punya keinginan untuk indonesia yang lebih baik. Tapi ingat, yang pasti... kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap hujatan, makian dan fitnah yang ditebarkan. Apalagi di medsos, dosanya berjamaah dan mengalir terus. Kita tidak tahu, apakah kita sempat minta maaf pada orang yang kita hujat, kita maki, kita fitnah. Dan apakah mereka akan memaafkan kita. Jangan sampai nanti rugi karena amalan kita diberikan pada orang yang kita hujat, kita fitnah. Apa kita mau, menanggung dosa-dosa mereka.
Silakan sampaikan keunggulan jagoanmu tanpa harus membuka aib lawanmu, tanpa harus saling hujat, saling caci, saling hina dan saling menjatuhkan. Saya kira itu lebih bijak. Biarkan individu yang menilai mana yang layak jadi pemimpin di negeri ini. Mudah-mudahan kita jadi semakin dewasa  dalam berteman di medsos dan berdemokrasi. Hindari berita hoax dan fitnah. Karena kita BHINNEKA TUNGGAL IKA bermacam macam hati penuh cinta

kampanye positif